Semuanya Berubah *terutama dia*
Saat kita masih kecil,, kita tidak pernah mengerti mengenai bagaimana sebuah gerakan itu terjadi, sebuah aksi yang menyebabkan reaksi, sebuah rangkaian sistem mulai dari reseptor, saraf, otak, sampai ke motorik. Waktu itu kita masih mendefinisikan apa yang baik berdasarkan apa yang kita suka, apa yang kita suka berdasarkan apa yang kita rasakan, apa yang kita rasakan berdasarkan apa yang ada di hati kita. Kita tidak pernah peduli dengan rasionalitas, kita tidak pernah memikirkan masa depan.
Kita masih dibodohkan oleh lelucon di televisi, masih percaya pada kekuatan magis daripada sebuah trik muslihat dengan perhitungan yang sangat akurat. Kita masih terbeli oleh iklan yang menyajikan emosi yang begitu menggiurkan dan percaya bahwa apa yang kita lihat adalah apa yang akan kita dapatkan. Kita tidak mengetahui hal - hal lain selain makan, sekolah, bermain, tidur dan mencapai pagi lagi. Tidak pernah memikirkan berapa banyak uang yang dipakai ke pasar minggu ini, tidak pernah peduli jika persediaan beras maupun bensin di mobil habis.
Dulu kita begitu polos sampai tidak menyadari bahwa masa kepolosan itu sudah seharusnya lewat, berbagai tindakan penuh dengan analisis dan pemikiran terbentang dan menjemput masa remaja kita. Segala jenis gengsi dan kata - kata yang menggambarkan perasaan begitu asing muncul seketika, kecemburuan, ambisi, strategi, sistematika dan sensitivitas.
Sampai awalnya kita mengenal apa yang disebut dengan ‘relationship’, yah,, sesuatu kata sederhana yang memiliki ratusan percabangan sehingga memiliki komplikasi yang tidak pernah berujung. Dimulai dari gengsi; "aku ingin punya pacar" jadinya,, kita memaksakan apa saja sehingga voila! pacar baru di tangan. Jika kebosanan sudah memuncak karena masa pengenalan yang tidak lebih dari 1 minggu, maka beralih lah kita ke lain hati. Dengan anggapan "cinta suci pasti mengerti" maka,, mulai lah kita di kehidupan yang baru, menunggu cemas akan kepastian masa depan.
Yah,, ketika apa yang kita tunggu tidak kunjung datang, berdirilah kita disini,, mencaci,,memaki,, bahkan menyesal mengapa yang lalu telah kita lepaskan. Tapi,, kembali dengan konsep "cinta suci pasti mengerti" maka tabahlah kita berdiri dan menunggu rasi bintang yang tepat untuk kita mulai melangkah lagi.
"Kekecewaan mungkin menyakitkan, tapi itu akan menegarkan kita, menguatkan dan menjadikan kita seorang yang mampu berdiri tegak menghadapi SEGALA sesuatu. Tapi jangan sampai dirimu tidak bisa mengatur kekuatanmu hingga akhirnya itu memakanmu sendiri." *ria
PS: dengan berubahnya elu,, i finally realize that my life is not that pathetic. Masi ada tembok dan kursi untuk gw pakai menyamankan diri gw daripada harus peduli dengan masalah sayang - sayangan yang gw tau ga ada untung2nya buat gw. IT was just a waste of time, but c’est ne pas promblem, i enjoyed it.
let’s grow up
October 10th, 2006 at 2:50 pm
hi ri! Gue juga pengen punya pacar. Tapi pengennya ngerasain yang manis2nya aja… hehehe…